REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Revolusi Industri, Are We Ready ?

image idea of revolusi industri 4.0
sumber : www.pixabay.com

Pernah mendengar tentang revolusi industri 4.0? sederhananya seperti membayangkan mobil yang berjalan tanpa pengemudi? Mencetak mobil dengan teknologi printing  tiga dimensi? Mungkin mesin yang mampu membaca pikiran manusia? Jika pernah membayangkan dan percaya semua itu realistis, maka selamat datang di zaman dimana hal-hal tersebut segera akan menjadi kenyataan.

Industri global saat ini berada pada titik puncak perubahan besar yang sebanding besarnya dengan munculnya revolusi industri pertama (perkembangan perakitan produksi) bahkan penemuan mikrocip. Kemajuan teknologi memungkinkan terjadinya otomatisasi hampir di semua bidang. Sementara itu, kepemilikan perangkat pintar di berbagai bagian dunia mengarah pada tingkat keterkaitan satu sama yang lain yang tak terbayangkan sebelumnya. Dunia perindustrian benar-benar sudah di ambang Industri 4.0.

Terminologi Revolusi Industri 4.0 pertama kali dikenal di Jerman pada 2011. Pada Industri 4.0  ditandai dengan integrasi yang kuat terjadi antara dunia digital dengan produksi industri. Secara ringkas sebagai bayangan, sebuah pabrik pintar yang di dalamnya mesin-mesin dan robot mampu bekerja menjalankan tugas-tugas rumit, bertukar informasi, saling memberi dan menerima perintah secara otomatis tanpa melibatkan manusia. Semua proses produksi tersebut berjalan dengan internet sebagai penopang utama. Semua obyek dilengkapi perangkat teknologi yang dibantu sensor mampu berkomunikasi sendiri dengan sistem teknologi informasi.

Sejenak menilik sejarah, revolusi industri pertama terjadi pada abad 18, ketika ditemukan mesin-mesin bertenaga uap, yang membuat manusia beralih dari mengandalkan tenaga hewan ke mesin-mesin produksi mekanis. Revolusi industri kedua berlangsung di sekitar 1870 ketika perindustrian dunia beralih ke tenaga listrik yang mampu menciptakan produksi massal. Revolusi industri ketiga terjadi di era 1960-an saat perangkat elektronik mampu menghadirkan otomatisasi produksi. Kini, perindustrian dan manufaktur dunia bersiap menghadapi revolusi industri keempat; Industri 4.0.

Pertanyaannya, apa saja yang mungkin terjadi, dan apa saja konsekuensinya bagi kita, Industri dan dunia kerja ?

Industri

Pada era industri generasi keempat ini, ukuran besar perusahaan tidak menjadi jaminan, namun kelincahan perusahaan menjadi kunci keberhasilan meraih prestasi dengan cepat. Fenomena Uber yang mengancam pemain-pemain besar pada industri transportasi di seluruh dunia atau Airbnb yang mengancam pemain-pemain utama di industri jasa pariwisata. Atau Tokopedia, Buka Lapak, yang memberi sumbangsih turunnya omset  mall dan ditutupnya banyak lapak lapak kecil dipusat pusat  perbelajaan, membuktikan bahwa yang cepat dapat memangsa yang lambat dan bukan yang besar memangsa yang kecil.  Reed Hasting, CEO Netflix pernah mengatakan bahwa jarang sekali ditemukan perusahaan mati karena bergerak terlalu cepat, namun sebaliknya yang seringkali ditemukan adalah perusahaan mati karena bergerak terlalu lambat.

Perusahaan harus peka dan instrospeksi diri sehingga mampu mendeteksi posisinya di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Tantangan terberat justru kepada para market leader di mana biasanya merasa superior dan merasa serangan disruptif hanya ditujukan kepada kompetitor minor yang kinerjanya tidak baik. Oleh sebab itu, perusahaan incumbent perlu terus bergerak cepat dan lincah mengikuti arah perubahan lingkungan bisnis dalam menyongsong era revolusi industri generasi keempat (Industry 4.0).

Dunia kerja :  Died and Born

Konsekuensi dari perubahan di dunia industri juga akan berdampak pada  penggunaan sumberdaya manusia alias tenaga kerja. Pekerjaan-pekerjaan lama akan banyak memudar walau tidak hilang sama sekali. Tetapi secara positif juga muncul pekerjaan pekerjaan baru yang tidak terpikirkan sebelumnya. Hal tersebut sebagai  konsekuensi logis yang terjadi pada setiap revolusi industry terjadi, contoh pergantian abad 19 ke abad 20, saat mobil menggantikan kereta-kereta kuda. Ribuan peternak dan pekerja yang menunggu pesanan di bengkel-bengkel kereta kuda pun menganggur. Namun pekerjaan-pekerjaan baru seperti montir, pegawai konstruksi jalanan, pengatur lalu lintas, petugas asuransi, dan sebagainya pun tumbuh.

Perlahan-lahan teknologi dengan cepat  dan masif  menggantikan  peran manusia. Penggantian tidak hanya pada  pekerjaan yang berhubungan dengan otot, tetapi  juga otak dan daya pikir  manusia. Pekerjaan yang sebelumnya tampak  mustahil  jika tanpa peran  manusia, saat ini kemajuan  teknologi memungkinkan hal itu terjadi secara nir-human. Siapa yang pernah membayangkan sebelumnya jika mobil bisa tanpa sopir, menerjemahkan akan digantikan oleh alat dan sofware, dan tilang bisa dilakukan via CCTV.

Kita bersiap  menyaksikan pekerjaan-pekerjaan yang eksis 20 tahun lalu pun perlahan-lahan akan pudar dan hilang. Petugas pengantar surat pos telah memudar, diramalkan penerjemah dan pustakawan akan menyusul. Bahkan diramalkan profesi dosen pun akan hilang karena kampus akan berubah menjadi semacam EO yang mengorganisir kuliah dari ilmuwan-ilmuwan kelas dunia. Kasir di supermarket, sopir taksi, loper koran, agen-agen asuransi, akuntas dan sejumlah  profesi lain diramalkan akan hilang atau minimal berkurang. Kita tentu perlu memikir ulang pekerjaan-pekerjaan yang kita tekuni hari ini.

Namun pada saat ini kitapun menyaksikan munculnya pekerjaan-pekerjaan baru yang tak pernah kita kenal 10-20 tahun lalu: Barista, blogger, web developer, apps creator/developer, smart chief listener, smart kettle manager, big data analyst, cyber troops, cyber psychologist, cyber patrol, forensic cyber crime specialist, smart animator, game developer, smart control room operator, medical sonographer, prosthodontics, crowd funding specialist, social entrepreneur, fashionista and ambassador, BIM Developer, Cloud computing services, cloud service specialist, Dog Whisperer, Drone operator dan sebagainya.

Apa yang bisa lakukan ?

image confused of revolusi industri 4.0
sumber : www.pixabay.com

Di beberapa situs kita pasti membaca kelompok yang menangisi hilangnya ribuan atau bahkan jutaan pekerjaan-pekerjaan lama, matinya  banyak industri besar yang tidak siap bersaing. Ada yang menyalahkan pemimpinnya sebagai sumber masalah, juga muncul kelompok-kelompok penentang  yang seakan-akan sanggup menjadi “juru selamat” dengan menyalahkan teknologi  sebagai “idiologi” baru  yang harus ditentang penerapannya. Namun perlu disadari gerakan-gerakan itu akan berujung pada kesia-siaan. Konektivitas  antar manusia  telah mempercepat   revolusi  teknologi diseluruh lini  dan  belahan  dunia, membuat   perubahan ini  sulit ditahan  bahkan oleh manusia itu sendiri.

Pilihan yang bijak saat ini adalah  menjadi  “penunggang” teknologi  dunia   dengan  terus menerus melatih  hidup mandiri dengan mental self-driving, self-power, kreativitas dan inovasi, kita harus mulai melatih diri menjadi pekerja mandiri menjelajahi profesi-profesi baru. Ketika mesin dibuat menjadi lebih pandai dari manusia, maka pintar saja tidak cukup.

Xsis  Academy  telah memutuskan  untuk menjadi  bagian dari perubahan itu. Xsis  mencetak tenaga- tenaga IT baru yang siap  secara mental dengan kemampuan skill teknologi terbaru yang siap  menjawab  kebutuhan era industri 4.0. Anda ingin menjadi looser karena  tidak  cepat menyesuaikan dengan era baru? Menjadi Winners dengan bergabung bersama Xsis Academy? your future is bright with Xsis.

 

_____________________________________

Written by :

BUDI SUWANDY

As Business Manager Xsis Academy

Bachelor Degree of Civil Engineering Atmajaya University Yogyakarta Has a career in various industry sectors ranging from Otomotif  Manufacturer, Agriculture Industry , Finance, Shipping Company  and  Property. Since June 2017 joined Xsis Academy as Business Manager for Business Training development

 

2 thoughts on “REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *